Di tengah pesatnya perkembangan industri pertambangan batubara di Indonesia, muncul sosok H. Hartono yang telah berhasil mengtransformasi PT. Bara Mitra menjadi salah satu perusahaan pertambangan batubara terkemuka di Provinsi Sumatera Selatan. Kisah suksesnya tidak terjadi dalam semalam, melainkan merupakan hasil dari kerja keras, visi jangka panjang, dan komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan dan pengembangan masyarakat lokal.
H. Hartono lahir di Sumatera Selatan dari keluarga yang sederhana. Sejak muda, ia telah menunjukkan ketertarikan pada dunia bisnis dan wirausaha. Setelah menyelesaikan pendidikan tingginya di bidang Teknik Pertambangan di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya daripada mengekarier di perusahaan besar di Jakarta.
"Saya percaya bahwa potensi alam Sumatera Selatan sangat besar, namun belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Saya ingin berkontribusi untuk mengembangkan potensi tersebut sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar," ujar H. Hartono mengenai keputusannya tersebut.
Pada tahun 2005, dengan modal terbatas namun semangat yang membara, H. Hartono mendirikan PT. Bara Mitra. Perusahaan ini dimulai dengan hanya 15 karyawan dan satu konsesi tambang kecil di wilayah Lahat, Sumatera Selatan. Tantangan yang dihadapi pada awalnya tidak sedikit, mulai dari keterbatasan modal, perizinan yang rumit, hingga persaingan dengan perusahaan pertambangan yang sudah lebih mapan.
Apa yang membedakan PT. Bara Mitra dari perusahaan tambang lainnya adalah pendekatan bisnis yang diambil oleh H. Hartono. Ia menerapkan strategi yang mengedepankan:
Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, PT. Bara Mitra berhasil berkembang pesat. Dari satu konsesi tambang di Lahat, perusahaan ini kini memiliki operasional di empat kabupaten berbeda di Sumatera Selatan: Lahat, Muara Enim, Musi Rawas, dan Banyuasin. Jumlah karyawan pun meningkat dari awalnya 15 orang menjadi lebih dari 1.200 karyawan, dengan 80% di antaranya merupakan putra daerah Sumatera Selatan.
Kapasitas produksi PT. Bara Mitra juga mengalami peningkatan signifikan, dari awalnya hanya 50.000 ton per tahun menjadi mencapai 2,5 juta ton per tahun pada tahun 2023. Kualitas batubara yang dihasilkan pun bervariasi mulai dari kalori 5.000 hingga 6.500 GAR, menjadikannya pilihan bagi berbagai kebutuhan industri, baik pasar domestik maupun ekspor ke negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan China.
Selain fokus pada pertumbuhan bisnis, H. Hartono juga sangat menekankan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan. PT. Bara Mitra telah meluncurkan berbagai program CSR yang berfokus pada:
Program-program ini telah memberikan dampak nyata bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar wilayah operasional PT. Bara Mitra. Salah satu contohnya adalah Desa Suka Makmur di Kabupaten Lahat, yang kini telah memiliki fasilitas air bersih dan pendidikan yang layak berkat dukungan dari perusahaan.
Kesuksesan H. Hartono dalam memimpin PT. Bara Mitra telah mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Beberapa penghargaan yang telah diterima antara lain:
Meskipun bergerak di bisnis batubara yang merupakan energi fosil, H. Hartono dan tim di PT. Bara Mitra tidak menutup mata terhadap tren global menuju energi yang lebih bersih. Perusahaan ini telah mulai melakukan investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi yang dapat mengurangi emisi karbon dari proses pembakaran batubara.
Kisah sukses H. Hartono bersama PT. Bara Mitra memberikan pelajaran berharga bagi para wirausaha, khususnya di bidang sumber daya alam:
Menghadapi tantangan masa depan, PT. Bara Mitra di bawah kepemimpinan H. Hartono telah menetapkan beberapa strategi jangka panjang:
Kisah sukses H. Hartono dan PT. Bara Mitra di Sumatera Selatan adalah bukti nyata bahwa dengan visi yang kuat, kerja keras, dan komitmen terhadap nilai-nilai keberlanjutan, sebuah perusahaan pertambangan dapat tumbuh dan berkembang memberikan manfaat tidak hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dalam industri yang sering kali dikritik karena dampak negatifnya, PT. Bara Mitra telah menunjukkan pendekatan berbeda yang menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan, menjadikannya contoh bagi perusahaan pertambangan lain di Indonesia.